Aktivitas belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yakti Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terpaksa menumpang di rumah warga dan musala setelah dua ruang kelasnya roboh pada Jumat sore, 17 Oktober 2025.
Peristiwa ini terjadi di Dusun Tumbu, Desa Purwodadi, Kecamatan Tegalrejo, dipicu oleh hujan deras disertai angin kencang, namun beruntung tidak ada korban jiwa karena seluruh siswa telah pulang sekolah. Sebanyak 21 siswa MI Yakti Tegalrejo, terdiri dari 10 siswa kelas III dan 11 siswa kelas IV, kini terdampak dan mengikuti pembelajaran dalam kondisi serba terbatas, duduk beralaskan karpet tanpa papan tulis.
Kepala MI Yakti Tegalrejo, Muhsirjam, memastikan kegiatan belajar tetap berjalan demi mencegah siswanya tertinggal pelajaran. Sekolah yang berdiri sejak 1982 dan menampung 75 siswa ini memiliki kondisi bangunan tua yang tidak lagi kuat menahan cuaca ekstrem. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian warga setempat yang rela menyediakan ruang tamu rumahnya sebagai lokasi belajar sementara bagi siswa MI Yakti Tegalrejo.
“Kami berterima kasih kepada warga yang sudah membantu. Anak-anak tetap semangat meski belajar di tempat seadanya,” ujar Muhsirjam, Selasa (21/10/2025). Ia menambahkan bahwa ruang kelas yang ambruk tersebut juga sering digunakan untuk pertemuan wali murid dan kegiatan masyarakat, seperti saat pemilu.
Upaya ini bukan hanya menjaga agar kegiatan belajar tetap berlangsung, tetapi juga menunjukkan solidaritas kuat komunitas dalam mengatasi kendala darurat pendidikan. Dukungan cepat dari warga yang mengalokasikan ruang pribadinya menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, terutama di daerah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur seperti yang dialami MI Yakti Tegalrejo.
Salah satu siswa, Alya Akhifa, mengaku sedih dan kurang nyaman karena harus belajar di rumah warga. “Belajar di rumah warga kurang nyaman. Harapannya kelas segera diperbaiki agar bisa belajar dengan baik,” ujarnya. Pihak sekolah saat ini sedang menggalang dana untuk perbaikan karena keterbatasan anggaran, dan belum dapat memastikan kapan pembelajaran dapat kembali normal di ruang kelas.
Muhsirjam berharap pemerintah daerah, pusat, serta para alumni dapat segera membantu perbaikan ruang kelas yang roboh itu. “Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat serta para alumni tergerak untuk membantu memperbaiki kelas yang ambruk,” tuturnya, menegaskan pentingnya intervensi cepat agar puluhan siswa segera mendapatkan kembali fasilitas belajar yang aman dan layak.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy