<PBB: Rekonstruksi Gaza Butuh Rp 1.137 Triliun, Makan Waktu Puluhan Tahun - Posegi

PBB: Rekonstruksi Gaza Butuh Rp 1.137 Triliun, Makan Waktu Puluhan Tahun

Gaza (AP)
Gaza (AP)

PBB perkirakan pembangunan kembali Gaza butuh dana $70 miliar atau Rp 1.137 triliun. UNCTAD sebut konflik dua tahun ini hancurkan 70% bangunan.

POSEGI.ID – Laporan Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) yang dirilis minggu ini melukiskan gambaran suram mengenai masa depan Jalur Gaza pasca-konflik. Lembaga tersebut memperkirakan proses pembersihan puing dan pembangunan kembali wilayah yang luluh lantak itu bisa menelan biaya lebih dari $70 miliar (sekitar Rp 1.137,5 triliun dengan kurs Rp 16.250) dan memakan waktu selama beberapa dekade. UNCTAD menyebut konflik yang berlangsung intensif selama dua tahun terakhir telah mengubah wilayah itu menjadi “jurang tanpa harapan yang diciptakan oleh manusia”.

Data PBB menunjukkan tingkat kehancuran fisik yang masif, di mana sekitar 174.500 bangunan, atau setara dengan 70 persen total bangunan di Jalur Gaza, telah hancur lebur atau rusak parah. Terdapat lebih dari 61 juta ton puing bangunan yang menumpuk dan membutuhkan proses pembersihan yang kompleks serta mahal sebelum rekonstruksi bisa dimulai. UNCTAD juga memperingatkan bahwa 2,3 juta warga Gaza kini berada dalam risiko kemiskinan ekstrem karena permusuhan telah secara signifikan melemahkan hampir seluruh pilar kehidupan dan infrastruktur dasar di wilayah tersebut.

Baca Juga :  Korea Selatan Larang Warganya Bepergian ke Sejumlah Wilayah di Kamboja

Dampak ekonomi dari konflik ini sangat melumpuhkan, dengan perekonomian Gaza dilaporkan menyusut drastis hingga 87% pada periode 2023-2024. Penurunan ini mendorong PDB per kapita jatuh ke angka $161 (sekitar Rp 2,6 juta), menjadikannya salah satu yang terendah di dunia. Laporan tersebut menyoroti bahwa resesi ekonomi terburuk yang pernah tercatat ini telah menghapus hasil pembangunan selama puluhan tahun. “GDP Palestine quay về mức năm 2010, còn GDP bình quân đầu người trở lại mức năm 2003,” tulis laporan tersebut, menegaskan bahwa 22 tahun kemajuan pembangunan lenyap dalam waktu kurang dari dua tahun.

Tantangan rekonstruksi Gaza, menurut para pengamat kemanusiaan, bukan hanya soal penggalangan dana triliunan rupiah, melainkan jaminan stabilitas politik yang saat ini sangat rapuh. Tanpa adanya kepastian keamanan permanen dan pencabutan blokade akses material bangunan, kucuran dana donor internasional berisiko sia-sia jika siklus konflik kembali meletus dan menghancurkan infrastruktur yang baru dibangun, katanya.

Baca Juga :  Harga Mobil di AS Cetak Rekor, Rata-rata Tembus 50.000 Dolar

Saat ini, gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Hamas, yang berlaku sejak Oktober, masih dipertahankan meski dalam kondisi rapuh dengan dugaan pelanggaran dari kedua pihak. Pertukaran tahanan telah terjadi, di mana Hamas membebaskan 20 sandera hidup dan 22 jenazah, sementara Israel membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina. Namun, situasi tetap tegang dengan laporan otoritas kesehatan Gaza yang menyebut setidaknya 342 orang tewas akibat senjata Israel sejak gencatan senjata dimulai.

Laporan UNCTAD ini menjadi peringatan keras bagi komunitas internasional bahwa pemulihan Gaza membutuhkan komitmen jangka panjang yang melampaui bantuan kemanusiaan darurat. Angka $70 miliar hanyalah perkiraan awal, dan biaya sosial serta manusia yang harus ditanggung warga Gaza jauh melampaui nilai materi tersebut.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy