<Protes Meletus di Rio de Janeiro Pasca Operasi Polisi Tewaskan 119 Orang - Posegi

Protes Meletus di Rio de Janeiro Pasca Operasi Polisi Tewaskan 119 Orang

Protes Meletus di Rio de Janeiro Pasca Operasi Polisi Tewaskan 119 Orang (AP)
Protes Meletus di Rio de Janeiro Pasca Operasi Polisi Tewaskan 119 Orang (AP)

Protes besar meletus di Rio de Janeiro (30/10) menyusul operasi polisi anti-geng di favela Penha & Alemao yang menewaskan 119 orang (28/10). Warga menuduh aparat melakukan pembantaian.

POSEGI.ID – Ratusan warga dari daerah kumuh (favela) Rio de Janeiro turun ke jalan, berkumpul di depan markas pemerintah negara bagian pada Rabu (29/10) atau Kamis (30/10) waktu setempat. Mereka meneriakkan “pembunuh” dan mengibarkan bendera Brasil yang dicelup merah darah, memprotes dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan dalam penggerebekan sehari sebelumnya. Massa menuntut pengunduran diri Gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro, sementara Mahkamah Agung, jaksa, dan anggota parlemen juga meminta klarifikasi detail operasi tersebut. Dalam aksi protes yang emosional, keluarga korban bahkan mengarak puluhan jenazah di jalanan, beberapa dilaporkan dalam kondisi termutilasi atau dengan luka akibat senjata tajam.

Baca Juga :  Harga Mobil di AS Cetak Rekor, Rata-rata Tembus 50.000 Dolar

Operasi besar-besaran yang memicu protes ini dilancarkan pada Selasa, 28 Oktober 2025. Sekitar 2.500 polisi dan tentara, didukung helikopter serta kendaraan lapis baja, menyerbu favela Penha dan Alemao yang dikenal sebagai basis geng kriminal dan narkoba. Baku tembak sengit pun pecah, mengakibatkan korban jiwa massal yang mengejutkan publik Brasil: sedikitnya 119 orang tewas, terdiri dari 115 terduga anggota geng dan empat petugas kepolisian. Skala korban jiwa ini menjadikannya salah satu operasi polisi paling mematikan dalam sejarah Rio de Janeiro.

“Ini adalah pembantaian,” kata Barbara Barbosa, seorang warga Penha. “Apakah kita dijatuhi hukuman mati? Jangan bunuh kami lagi,” seru aktivis Rute Sales (56). Keraguan atas klaim resmi bahwa semua korban tewas adalah anggota geng bersenjata yang melawan aparat menguat setelah pernyataan seorang pejabat polisi, Fedipe Geshai. Geshai mengungkapkan banyak jenazah tersangka ditemukan di hutan hanya mengenakan pakaian dalam atau celana pendek, tanpa senjata di dekatnya, mengindikasikan kemungkinan penduduk setempat mengganti pakaian jenazah dan menyembunyikan senjata mereka. Geshai bersumpah akan menyelidiki temuan “bukti buruk” ini.

Baca Juga :  'Perahu Terbang' Candela Revolusikan Transportasi Air Global Hemat 80% Energi

Otoritas negara bagian Rio de Janeiro bersikeras bahwa para tersangka yang tewas adalah anggota geng bersenjata yang melakukan perlawanan aktif terhadap pasukan keamanan saat penggerebekan. Namun, sejarah mencatat beberapa operasi polisi mematikan sebelumnya di Rio, seperti di Baixada Fluminense (Maret 2005, 29 tewas) dan Jacarezinho (Mei 2021, 28 tewas), seringkali memicu tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan eksekusi di luar hukum. Protes yang kini berkecamuk menuntut akuntabilitas penuh atas tragedi terbaru ini.

  • Tags:
  • #

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy