<Hujan Jakarta Tercemar Mikroplastik, BMKG: Polutan Bisa Datang dari Luar - Posegi

Hujan Jakarta Tercemar Mikroplastik, BMKG: Polutan Bisa Datang dari Luar

Ilustrasi Hujan (Freepik)
Ilustrasi Hujan (Freepik)

Hujan di Jakarta tercemar mikroplastik, ungkap riset ECOTON (23/10). BMKG (24/10) menyebut polutan ini bisa terbawa angin dari luar area.

POSEGI.ID – Kajian Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) dan SEIJ yang dirilis Kamis (23/10/2025) menempatkan Jakarta Pusat sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik udara tertinggi di Indonesia (37 partikel), disusul Jakarta Selatan (30 partikel) dan Bandung (16 partikel). Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti, mengatakan temuan ini mendukung riset BRIN, karena tingginya mikroplastik di udara berdampak pada kadarnya di air hujan.

Fungsional Madya BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan mikroplastik yang ditemukan di Jakarta tidak selalu berasal dari wilayah itu sendiri. Ia menyebut mikroplastik dikategorikan sebagai aerosol, yakni partikel padat atau cair yang tersuspensi di udara, yang dapat berpindah mengikuti pola angin (transportasi polutan) sebelum turun melalui deposisi basah (hujan). “Artinya, mikroplastik yang ditemukan di Jakarta bisa saja berasal dari wilayah lain, atau sebaliknya, partikel dari Jakarta terbawa angin ke daerah lain,” ungkapnya, Jumat (24/10/2025).

Baca Juga :  PT Nayue Biotech Indonesia Resmikan Pabrik Baru di Cikarang, Investasi 70 Juta Dolar AS

Meski demikian, sumber lokal tetap signifikan, di mana ECOTON menyebut Pasar Tanah Abang sebagai hotspot akibat pelepasan serat sintetis dari tekstil dan aktivitas lalu lintas. Profesor riset BRIN, Muhammad Reza Cordova, juga menyoroti pengelolaan TPA sampah di sekitar Jakarta yang masih open dumping sebagai pemicu utama. “Sinar matahari yang mengenai tumpukan sampah plastik di TPA… memecah plastik menjadi partikel kecil,” ujarnya, yang kemudian mudah terbawa angin.

Polemik sumber mikroplastik ini, menurut para ahli, menunjukkan ancaman ganda yang dihadapi Jakarta, yakni polusi impor via angin dan polusi lokal dari TPA serta industri. Keduanya sama-sama berkontribusi pada temuan BRIN soal peningkatan kadar mikroplastik lima kali lipat di Muara Angke sejak 2015 hingga 2022, katanya.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengingatkan bahaya partikel yang terhirup atau larut dalam air hujan ini. Ketua Subkelompok Penyehatan Lingkungan Dinkes DKI, Rahmat Aji Pramono, mengatakan mikroplastik bisa menambah risiko stroke bagi pasien diabetes. “Ketika ada orang dengan diabetes juga merokok, ditambah juga (terpapar) mikroplastik maka risiko terjadinya serangan jantung dan serangan stroke bisa meningkat,” katanya.

Baca Juga :  Hujan Deras Kamis Sore, 27 RT di Jakarta Selatan Terendam Banjir 110 cm

Menanggapi temuan mikroplastik di hujan Jakarta, Kepala Dinas LH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, meminta pabrik menambah alat penyaring polutan (scrubber) dan Continuous Emission Monitoring System (CEMS). Pemprov DKI tidak akan segan memberikan sanksi administratif, denda, hingga penutupan usaha bagi industri yang terbukti melebihi baku mutu emisi.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy