<Prospek Obligasi Pemerintah 2026: Peluang Investasi dan Faktor Penentu - Posegi

Prospek Obligasi Pemerintah 2026: Peluang Investasi dan Faktor Penentu

Prospek pasar obligasi pemerintah di Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan cerah, didorong oleh kombinasi kebijakan Bank Indonesia yang akomodatif, fundamental eksternal yang tangguh, serta permintaan domestik yang mendalam. Pandangan positif ini disampaikan oleh Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, dan Andry Asmoro, Chief Economist Bank Mandiri, kepada Kontan di Jakarta, Senin (10/11/2025). Mereka menyoroti berbagai faktor yang menjadikan instrumen investasi ini menarik bagi para investor.

Josua Pardede menjelaskan bahwa ada beberapa pendorong utama di balik optimisme ini. Pertama, kebijakan moneter Bank Indonesia telah memasuki fase yang lebih longgar, dengan BI-Rate saat ini berada pada 4,75%. Bauran kebijakan yang diterapkan oleh bank sentral bertujuan untuk mendorong transmisi suku bunga kredit, menambah likuiditas di pasar, dan memperkuat pasar sekunder melalui beragam instrumen likuiditas, termasuk potensi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder jika diperlukan.

Selanjutnya, fondasi eksternal Indonesia dinilai relatif kuat. Neraca pembayaran negara tetap terjaga, cadangan devisa terbilang memadai, dan surplus perdagangan terus berlanjut. Kondisi ini secara signifikan mengurangi premi risiko dan mendukung permintaan SBN dari investor domestik. Di sisi lain, Josua menuturkan bahwa sisi permintaan dari investor domestik sangat solid, tercermin dari rasio bid-to-cover yang tinggi di pasar perdana serta nilai penawaran yang meningkat tajam per lelang pada tahun 2025. Aktivitas transaksi di pasar sekunder pun tetap tinggi, seiring dengan semakin dalamnya basis investor.

Baca Juga :  Adaro Bagi Dividen Interim Jumbo: Ini Jadwal dan Dampaknya Bagi Investor

Dengan konvergensi kebijakan akomodatif BI, fundamental eksternal yang kuat, dan permintaan domestik yang solid, obligasi pemerintah Indonesia menawarkan proposisi nilai yang menarik. Kupon riil SBN tetap kompetitif dibandingkan dengan negara-negara di kawasan, volatilitas pasar cenderung menurun, dan ruang untuk penurunan imbal hasil masih terbuka lebar, terutama jika inflasi dapat terus dikendalikan pada level rendah dan nilai tukar rupiah tetap stabil. Kondisi ini secara kolektif membentuk lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan investasi pada obligasi pemerintah, menjadikannya pilihan yang patut dipertimbangkan bagi para pelaku pasar yang mencari stabilitas dan potensi keuntungan di tengah dinamika ekonomi global.

Mengenai tren imbal hasil (yield) obligasi pemerintah, Josua memperkirakan bahwa proyeksi akhir tahun untuk yield SUN 10 tahun akan berada di kisaran 6,10% hingga 6,30%. Angka ini menjadi jangkar yang mengindikasikan bahwa ruang penurunan yield mungkin terbatas, namun tetap ada jika dukungan dari faktor-faktor global menguat. Kendati demikian, Josua mengingatkan bahwa investor perlu mengantisipasi skenario yield yang naik ke 6,30% hingga 6,60%. Hal ini dapat terjadi jika data inflasi di Amerika Serikat kembali menguat, penundaan pemotongan suku bunga global berlanjut, atau terjadi lonjakan kebutuhan pembiayaan yang memadat di awal tahun.

Baca Juga :  KPR Dominasi Pembelian Rumah: Apa Dampaknya Bagi Pasar?

Senada dengan Josua, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, juga menyampaikan pandangan positif terhadap prospek obligasi pemerintah pada tahun 2026. Menurut Andry, hal ini didorong oleh tren penurunan suku bunga, komitmen pemerintah untuk menjaga defisit APBN di bawah 3%, serta potensi masuknya aliran modal asing ke Indonesia. Andry memproyeksikan tren yield pada tahun depan akan berada di kisaran 5,9% hingga 6%.

Andry Asmoro juga membeberkan strategi krusial yang perlu dicermati investor saat ini, yaitu untuk “building porto” atau membangun portofolio. Ia menyarankan agar investor segera mengumpulkan obligasi untuk mendapatkan yield yang menarik, mengingat tren suku bunga yang menurun akan menyulitkan investor untuk memperoleh yield setinggi saat ini di masa mendatang. Selain itu, Andry merekomendasikan untuk membangun portofolio obligasi korporasi dari perusahaan dengan peringkat yang baik.

Sementara itu, Josua Pardede memaparkan beberapa strategi lain bagi investor obligasi dari sekarang hingga tahun depan. Pertama, ia menyarankan penempatan inti investasi pada tenor menengah, yakni 5 hingga 10 tahun. Dengan kurva imbal hasil yang masih positif meskipun mulai menipis, tenor menengah memberikan keseimbangan optimal antara potensi pendapatan bunga (carry) dan sensitivitas harga, serta memiliki likuiditas tersier terbaik.

Baca Juga :  IHSG Sentuh 8.391, Investor Waspada Koreksi Tipis Hari Ini!

Kedua, investor dapat mengombinasikan SBN tenor 2-3 tahun untuk fleksibilitas dalam menghadapi risiko peristiwa tak terduga dan memanfaatkan penurunan suku bunga yang lebih cepat. Pilihan lain adalah SBN tenor 15-20 tahun untuk mengunci yield riil dan mendapatkan potensi capital gain jika kurva imbal hasil melandai. Ketiga, Josua menegaskan pentingnya memanfaatkan momentum lelang dan pasar sekunder. Rasio bid-to-cover yang tinggi di pasar perdana mengindikasikan bahwa momen beli terbaik sering terjadi saat lelang tertentu ketika penawaran seri obligasi lebih banyak.

Terakhir, Josua Pardede menekankan bahwa investor perlu secara cermat memantau tiga penentu kunci yang akan memengaruhi pergerakan pasar obligasi. Ketiga faktor tersebut meliputi data inflasi dan tenaga kerja Amerika Serikat, beserta arah imbal hasil global; keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dan kecepatan transmisi suku bunga perbankan; serta perkembangan neraca eksternal Indonesia, khususnya keberlanjutan surplus perdagangan yang akan memperkuat rupiah dan menekan premi risiko SBN.

  • Tags:
  • #

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy