Seorang siswa bernama Ali, bukan nama aslinya, masih terbayang detik-detik mengerikan sebelum ledakan mengguncang SMAN 72 Jakarta. Ali, yang saat itu sedang bermain bersama teman-temannya di halaman musala, menuturkan rutinitas mereka sebelum salat Jumat. “Kami biasa main-main begitu sebelum waktu salat Jumat dimulai,” ungkapnya saat ditemui di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat malam, 7 November 2025.
Saat Ali bergegas menuju musala, sebuah dentuman keras yang tiba-tiba mengagetkannya. Suara itu berasal dari dalam musala, membuat langkahnya yang semula cepat mendadak terhenti. Ia dan teman-teman lainnya mencoba mencari tahu sumber suara misterius tersebut. Baru saja mendekati area musala, dugaan mereka buyar ketika dentuman keras kembali terdengar, kali ini dari luar musala.
Siswa berusia 16 tahun itu awalnya menduga dentuman pertama berasal dari sistem suara musala yang rusak, sebuah pikiran yang cepat melintas di benaknya dalam upaya mencari penjelasan rasional. Namun, kemunculan dentuman kedua yang tak terduga dari area luar musala, ditambah dengan pemandangan teman-temannya yang berhamburan dengan wajah berlumuran darah dari dalam, dengan cepat mengikis dugaan itu, menggantinya dengan kebingungan dan kengerian yang mendalam. “Aku awalnya mikir, jangan-jangan *sound system* yang meledak. Tapi ternyata enggak lama setelah itu ada dentuman lagi dari luar,” tuturnya.
Di tengah kebingungan dan kepulan asap, Ali seketika syok melihat teman-temannya dari dalam musala berlarian dengan luka dan darah. Ia sempat tak tahu harus berbuat apa. Namun, ketika teriakan minta tolong untuk evakuasi menggema dari segala arah, Ali langsung bergerak, membantu teman-temannya menuju tempat yang lebih aman. “Yang jelas aku sudah enggak mikir apa-apa lagi, bingung, langsung bantu teman-teman saja buat dibawa ke tempat yang aman. Ada yang teriak-teriak minta ambil tandu,” jelas Ali, menggambarkan suasana chaos saat itu.
Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa di dalam musala tersebut tidak hanya siswa laki-laki yang akan salat Jumat, tetapi juga guru, penjaga sekolah, hingga penjaga kantin yang berniat beribadah. Ia tidak dapat memastikan apakah ada guru yang turut menjadi korban dari ledakan tersebut. Peristiwa tragis ini, bagi Ali, menyisakan trauma mendalam. Ia merasa khawatir kejadian serupa dapat terulang kembali di kemudian hari. “Ini pertama kali terjadi. Aku kaget, takut, bingung. Masih enggak ngerti memprosesnya bagaimana,” ucapnya, berharap kejadian ini adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupnya.
Sementara itu, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti insiden ledakan yang terjadi beberapa menit sebelum pelaksanaan salat Jumat di SMAN 72 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Sejumlah korban diketahui masih menjalani perawatan intensif di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dan RS Yarsi, Jakarta Pusat.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy