<KPR Dominasi Pembelian Rumah: Apa Dampaknya Bagi Pasar? - Posegi

KPR Dominasi Pembelian Rumah: Apa Dampaknya Bagi Pasar?

Survei terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi jalur utama masyarakat Indonesia dalam mengakuisisi hunian. Sepanjang triwulan III 2025, mekanisme pembiayaan ini mendominasi pasar dengan pangsa mencapai 74,41 persen dari total pembelian properti residensial.

Dominasi KPR tersebut menegaskan preferensi konsumen terhadap skema pembiayaan jangka panjang. “Pembelian rumah primer melalui pembayaran tunai bertahap dan tunai masing-masing memiliki pangsa sebesar 17 persen dan 8,59 persen,” demikian terungkap dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis BI pada Kamis, 6 November 2025. Fakta ini menegaskan bahwa metode pembayaran tunai, baik secara langsung maupun bertahap, hanya menjadi pilihan minoritas dibandingkan KPR.

Pada periode yang sama, KPR mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 7,39 persen. Angka ini, meski tetap positif, menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan II 2025 yang mencapai 7,81 persen. Namun demikian, laju pertumbuhan KPR secara triwulanan dilaporkan relatif stabil, menandakan konsistensi permintaan di sektor ini.

Baca Juga :  IHSG Sentuh 8.391, Investor Waspada Koreksi Tipis Hari Ini!

Di sisi lain, penjualan hunian primer secara keseluruhan mengalami kontraksi sebesar 1,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Meskipun demikian, kontraksi ini menunjukkan perbaikan signifikan jika dibandingkan dengan triwulan kedua yang mencatat penurunan lebih dalam hingga 3,80 persen.

Perlambatan penjualan rumah primer ini salah satunya dipengaruhi oleh kinerja penjualan rumah tipe besar yang terkontraksi tajam hingga 23 persen secara tahunan. Penurunan ini bahkan lebih dalam daripada kontraksi triwulan sebelumnya yang mencapai 14,95 persen. Penjualan rumah tipe menengah juga masih mengalami kontraksi sebesar 12,27 persen, meski trennya membaik dari kontraksi 17,69 persen pada triwulan sebelumnya. Menariknya, di tengah tantangan tersebut, penjualan rumah tipe kecil justru melonjak sebesar 14,95 persen, melampaui pertumbuhan 6,70 persen pada triwulan sebelumnya. Perbedaan kinerja penjualan antar tipe hunian ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi atau daya beli konsumen di tengah kondisi pasar yang dinamis. Sementara rumah besar dan menengah menghadapi tantangan, peningkatan signifikan pada penjualan rumah tipe kecil dapat mencerminkan adaptasi pengembang terhadap permintaan akan hunian yang lebih terjangkau, atau respons pasar terhadap stimulus tertentu yang menargetkan segmen ini.

Baca Juga :  Obligasi Korporasi Jadi Andalan Transaksi Repo? Inilah Dorongan BI

Survei BI mengidentifikasi sejumlah faktor penghambat utama bagi pengembangan dan penjualan properti residensial. Kenaikan harga bahan bangunan menjadi kendala terbesar dengan kontribusi 19,80 persen. Selanjutnya, masalah perizinan atau birokrasi memegang porsi 14,39 persen, menjadikannya penghambat kedua yang paling signifikan. Kemudian, suku bunga KPR menduduki peringkat ketiga sebagai penghambat utama dengan kontribusi 15,05 persen.

Selain itu, proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR juga menjadi tantangan serius bagi calon pembeli, menyumbang 11,75 persen dari total hambatan. Terakhir, dampak dari masalah perpajakan turut membebani sektor ini dengan porsi 8,84 persen.

Data survei Bank Indonesia lebih lanjut memaparkan bahwa suku bunga KPR pada triwulan III 2025 berada pada level 7,45 persen. Angka ini menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat di kisaran 7,41 persen, serta lebih tinggi dari 7,44 persen yang tercatat pada triwulan III tahun lalu. Fluktuasi suku bunga ini tentu menjadi salah satu pertimbangan utama bagi masyarakat yang berencana membeli hunian.

Baca Juga :  Valuasi Nvidia $5 Triliun Guncang Hierarki GAFAM, Era 'Magnificent Seven' Dimulai
  • Tags:
  • #

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy