<Terungkap! 6 Pemicu Perselingkuhan & Cara Mengatasinya - Posegi

Terungkap! 6 Pemicu Perselingkuhan & Cara Mengatasinya

Setiap pasangan mendambakan hubungan romantis yang langgeng dan penuh gairah, namun realitas pahit kerap menerpa. Perselingkuhan, yang bisa menimpa siapa saja dan kapan saja, bahkan setelah bertahun-tahun menjalin kebersamaan, seringkali menjadi penyebab kandasnya kisah cinta.

Bagi korban, munculnya pertanyaan seperti ‘Apa yang salah?’, ‘Mengapa pasangan yang setia tiba-tiba berselingkuh?’, atau ‘Apakah diri saya tidak cukup baik?’ adalah hal yang wajar. Namun, penting untuk diingat bahwa perselingkuhan bukanlah cerminan kekurangan diri Anda. Ada berbagai faktor kompleks yang melatarbelakangi tindakan tersebut, dan Anda bukanlah penyebabnya. Memahami enam pemicu utama perselingkuhan berikut ini dapat membantu menguak tabir di balik realitas pahit ini.

Falling Out of Love

Pernah mendengar istilah ‘falling out of love’? Istilah ini merujuk pada kondisi seseorang yang berhenti merasakan keterikatan romantis atau seksual yang mendalam terhadap pasangannya. Ini adalah salah satu penyebab perselingkuhan yang sering terjadi. Ketika salah satu pihak mulai kehilangan ‘percikan’ dalam hubungan atau merasakan berkurangnya intensitas cinta, kerap muncul dorongan untuk mencari sensasi baru.

Fenomena ini seringkali menjadi dalih bagi perselingkuhan, di mana individu mencari ‘percikan’ baru saat bertemu orang lain di luar hubungan yang telah mereka jalani.

Baca Juga :  Ibu: Pengaruh Cinta Pertama yang Membentuk Hubunganmu?

Masalah Komunikasi

Komunikasi yang terhambat dapat menjadi lahan subur bagi benih-benih perselingkuhan. Ketika pasangan kesulitan mengekspresikan kebutuhan dan emosi mereka, kesalahpahaman pun tak terhindarkan. Contohnya, jika salah satu pasangan menginginkan lebih banyak waktu berkualitas tetapi gagal menyampaikannya, pasangannya mungkin tidak menyadari betapa pentingnya hal tersebut.

Kesenjangan emosional ini bisa mendorong individu yang merasa diabaikan untuk mencari ‘teman’ di tempat lain, di mana mereka merasa emosinya dihargai. Komunikasi yang jelas dan terbuka sangat krusial untuk menjembatani kesenjangan semacam ini dan mencegah situasi di mana kebutuhan yang tidak terpenuhi mendorong seseorang mencari pengertian dan keintiman di luar hubungan.

Ketidakmampuan dalam Menyelesaikan Masalah

Melarikan diri dari masalah dan ketidakmampuan untuk mengatasinya merupakan pemicu utama lainnya dalam perselingkuhan. Seringkali, alih-alih menghadapi masalah yang ada, salah satu atau kedua belah pihak dalam suatu hubungan justru mencari-cari alasan dan mencoba mencari jalan keluar lain yang akhirnya membuka pintu bagi perselingkuhan.

Baca Juga :  Rice Cooker Awet: Rahasia Membersihkan Cepat & Tepat!

Banyak kasus menunjukkan bahwa seorang pasangan menemukan rekan kerja yang dapat diajak berbagi masalah dan merasa nyaman, yang seringkali menjadi awal dari perselingkuhan. Tak heran jika sebagian besar kasus perselingkuhan terjadi di lingkungan kerja, di mana rekan kerja yang simpatik menawarkan bahu untuk bersandar.

Krisis komunikasi dan ketidakmampuan menyelesaikan konflik, menurut para ahli hubungan, seringkali menjadi pintu gerbang awal keretakan. Ketika kebutuhan emosional tidak terungkap atau masalah dibiarkan mengakar, seorang individu mungkin mulai merasa terisolasi dalam hubungan. Perasaan hampa inilah yang kemudian tanpa disadari mendorong mereka mencari validasi dan perhatian di luar, seringkali berujung pada perselingkuhan. Ini menunjukkan betapa pentingnya pondasi emosional yang kuat dalam menjaga keutuhan sebuah hubungan.

Kurangnya Komitmen

Melansir dari Psychology Today, kurangnya cinta dan rendahnya komitmen terhadap pasangan romantis saat ini berkaitan erat dengan perasaan ketidakpuasan hubungan secara umum; keduanya mungkin berjalan beriringan. Dalam konteks komitmen, hampir 41% orang menyatakan bahwa tingkat komitmen yang rendah terhadap pasangan romantis mereka menjadi motivasi untuk berselingkuh.

Baca Juga :  Pare: Manfaat Dahsyat Sayur Pahit Bagi Kesehatan Anda

Masalah Psikologis

Verywell Mind menuturkan, ciri narsistik atau gangguan kepribadian tertentu dikaitkan dengan probabilitas perselingkuhan yang lebih tinggi. Pada individu dengan narsisme, perselingkuhan mungkin didorong oleh ego dan perasaan bahwa mereka berhak melakukan apa pun. Selain mementingkan diri sendiri, orang dengan gangguan ini seringkali kurang memiliki empati, sehingga mereka tidak menghargai dampak tindakan mereka terhadap pasangannya.

Adanya Sebuah Peluang

Peluang merujuk pada situasi di mana seseorang menjalin hubungan dengan calon pasangan potensial karena lingkungan yang sama, seperti tempat kerja atau lingkungan sosial. Kedekatan dan interaksi yang intens dapat menciptakan kondisi yang kondusif bagi berkembangnya hubungan emosional atau fisik di luar komitmen.

Sebagai contoh, seseorang yang secara rutin berinteraksi dengan rekan kerja dalam perjalanan bisnis mungkin mendapati diri mereka membentuk ikatan emosional akibat pengalaman bersama dan waktu yang dihabiskan bersama secara intens. Hal ini pada akhirnya dapat mengarah pada perselingkuhan jika batasan yang tepat tidak dijaga dengan cermat.

  • Tags:
  • #

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy